Dinara

Hujan deras mengguyur kawasan selatan Yogyakarta, bajuku sempat basah terkena tetesan air hujan yang bocor dari atap warung angkringan tempatku biasa menghabiskan senja. Siaran televisi menayangkan kerusuhan di Jeddah tentang TKI yang berebut mengurus visa di kantor KJRI. Budaya antri nampaknya memang masih susah diterapkan bagi sebagian penduduk negeri ini. Sesekali kuseruput teh jahe yang tadi kupesan untuk sekedar menghangatkan badan, Jogja yang biasanya panas terlebih dibagian selatan bisa juga terasa dingin.

Waktu menunjukkan pukul 17.30 ketika hujan mulai mereda dan akhirnya hanya berupa gerimis tipis, aku melangkah dengan terlebih dahulu melipat ujung celana agar tidak kotor oleh genangan air. Sesaat kemudian adzan maghrib berkumandang dari masjid Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak yang tak jauh dari lokasi angkringan dan dari beberapa masjid yang jaraknya memang tidak terlalu jauh. Kupikir orang sini akan kerepotan jika harus menjawab semua adzan dari semua masjid yang ada, saking ramainya terkadang aku sendiri kerepotan ketika menjawab panggilan adzan.

Continue reading

Loempia Boom Yogyakarta

Postingan gw untuk beberapa hari kedepan bakalan full sama yang namanya wisata kuliner, there will be no code, Trust me!. Sehari menjelang berangkat ke Jogja, 14 Mei 2013 lalu, gw sempet minta dibawa wisata kuliner dan pilihan pertama yang ditawarkan oleh temen gw non Girra adalah Loempia Boom yang lokasinya nggak begitu jauh dari komplek UGM, tepatnya di Jalan Selokan Mataram, Pogung Dalangan. Salah satu yang gw suka disini adalah viewnya, kalau misalkan pilih untuk makan dilantai 2, kita bisa lihat view area pesawahan yang cukup luas.

Biasanya kalau makan lumpia ya lumpia doang, tapi kalau disini makan lumpia pakai nasi!, gak mesti pakai nasi juga sih, sesuai selera saja tapi dari beberapa menu paket ada yang menawarkan lumpia + nasi putih dalam satu paket. Untuk urusan harga sepertinya di Jogja agak susah cari makanan yang mahal, kecuali kalau makan di destinasi turis seperti Malioboro (pernah makan nasi pecel+ayam+teh manis Rp 20.000,-).

Continue reading

Angkringan Wijilan Yogyakarta

Sebagai warga Jogja baru yang baik sepertinya nggak asik kalau gak nyoba salah satu makanan khas dari kota pelajar ini, selain terkenal dengan Gudeg dan Bakpia Pathoknya, Jogja juga menjadi surganya Angkringan. Selama tinggal di beberapa kota besar (Bekasi, Jakarta dan Bandung) sepengalaman gw gak ada Angkringan yang buka dipagi hari, tapi kalau disini jam buka Angkringan sama saja dengan jam buka warung makan pada umumnya.

Continue reading

Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus "Menakutkan"

Reblogged from Catatanku:

Setiap acara wisuda di kampus ITB selalu ada pidato sambutan dari salah seorang wisudawan. Biasanya yang terpilih memberikan pidato sambutan adalah pribadi yang unik, tetapi tidak selalu yang mempunyai IPK terbaik. Sepanjang yang saya pernah ikuti, isi pidatonya kebanyakan tidak terlalu istimewa, paling-paling isinya kenangan memorabilia selama menimba ilmu di kampus ITB, kehidupan mahasiswa selama kuliah, pesan-pesan, dan ucapan terima kasih kepada dosen dan teman-teman civitas academica.

Read more… 2,614 more words

Celah di Privasi Photos Google+

Apapun yang terkait dengan privasi memang menjadi hal yang sangat sensitif. Bagaimana tidak? Siapa yang tidak kesal ketika konten pribadinya digunakan oleh pihak lain tanpa adanya pemberitahuan, izin apalagi tak mendapat royalti apapun. Berbicara tentang keamanan data, dunia maya memang tak sepenuhnya menjanjikan hal tersebut. Berbagai celah bisa saja terdapat pada sebuah sistem. Secanggih apapun itu.

Baru-baru ini saya temui sebuah ‘bolong’ yang berkaitan dengan privasi konten photosyang ada di jejaring sosial Google+. Sebagai pengguna Google+ tentu saya tidak hanya asal menggunakan. Prinsip waspada tetap harus diperhatikan terlebih menyangkut dengan privasi.

Continue reading

Gadis Bulan

Img: mocoe.wordpress.com

Img: mocoe.wordpress.com

Hidung mancungnya terlihat jelas saat sinar bulan berhasil merangsek kedalam sela-sela dedaunan yang menaungi tempat pembicaraan kami berdua waktu itu. Sikapnya masih saja diam seribu bahasa, entah apa yang sedang dipikirkannya. Lebih dari setengah jam berlalu, suara-suara nyaring jangkrik dan kodok menjadi pemecah sunyi suasana. ‘Malam ini terasa sangat dingin’ sejenak ia berusaha ikut memecah kesunyian, kemudian kembali dengan lamunannya. Sesekali tatapan kami bertemu, dingin dan menyejukkan, itulah yang bisa kurasakan. Fokusnya lebih pada panorama langit malam dari sela-sela dedaunan. Milyaran bintang yang berpendar membentuk formasi rasi-rasi bintang dirasanya lebih menarik, ditambah lagi dengan bulatnya bulan purnama saat itu.

Continue reading